Sudah lama saya jatuh hati pada Sherlock Holmes, detektif legendaris rekaan Sir Arthur Conan Doyle. Kisah tentang petualangannya dalam menyelesaikan kasus-kasus menarik telah saya khatamkan saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Selama itu pulalah, karakter Sherlock Holmes terekonstruksi dalam benak saya sebagai pria yang eksentrik, dingin, kaku, serius—tentu saja, di samping kemampuan deduksinya yang di atas rata-rata. Akan tetapi, semenjak menikmati dua karya Guy Ritchie: Sherlock Holmes (2010) dan sekuelnya yang berjudul Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011), persepsi saya tentang Sherlock Holmes menjadi amat bergeser. Bagaimana tidak, Robert Downey Jr dengan piawai memainkan peran Holmes yang cerdas, urakan, sekaligus konyol. Sherlock Holmes versi Robert Downey Jr rela menyamar menjadi wanita dalam kompartemen kereta menuju Brighton demi mengobservasi gerak-gerik musuh!
Sherlock Holmes: A Game of Shadows menjadi film pertama yang saya tonton tahun ini. Sebagai seorang penggemar Sherlock Holmes, sangat menarik menjumpai tokoh-tokoh imajiner dalam versi novelnya diangkat ke layar lebar dengan jalan cerita yang baru. Fantastis sekali dapat melihat Mycroft Holmes, kakak kandung Sherlock Holmes yang bekerja di dinas rahasia Inggris, turut berperan dalam film ini. Sementara pada beberapa bagian, tidak sukar bagi saya untuk menarik persamaan dengan plot yang pernah dihadirkan dalam novel asli. Adegan pergulatan fisik antara Sherlock Holmes dan Professor Moriarty yang berujung pada jatuhnya mereka ke Reichenbach Fall, misalnya, adalah adaptasi dari kisah Sherlock Holmes berjudul The Final Problem yang ditulis Conan Doyle lebih dari seabad lalu.
Skenario yang dipenuhi oleh adegan kekerasan menjadi nilai minus film ini bagi saya. Kerap saya harus menutup mata karena terlalu ngeri melihat bermacam adegan melumpuhkan lawan. Seperti saat para lakon saling berbaku tembak, atau saat Professor Moriarty menyiksa Holmes di sebuah pabrik senjata di Perancis. Karena alasan semacam itulah mengapa hingga detik ini sulit untuk saya bisa menyebut diri sebagai penikmat film action sejati.
Meskipun demikian, Sherlock Holmes: A Game of Shadows juga menawarkan aneka adegan kocak yang disuguhkan tanpa membuatnya berkesan murahan. Guyonan segar yang keluar dari dialog para tokohnya cukup menghibur. Pada akhirnya, saya benar-benar tak bisa menahan tawa di penghujung film ini. Sherlock Holmes—yang telah dianggap hanyut oleh derasnya Reichenbach Fall di Swiss—berjingkat dengan pakaian kamuflase, mendekati mesin ketik Dr. Watson untuk melihat eulogi yang baru selesai dibuat untuk mengenang dirinya. Detektif penghuni 221B Baker Street itu pun iseng menambahkan tanda tanya di belakang kata "THE END". Seakan mengejek kekeliruan Watson, atau mungkin juga mengisyaratkan pada penonton bahwa petualangannya tak berhenti sampai disitu. :)
Image via heyuguys.co.uk.



0 comment(s):
Post a Comment