Tiga bulan lalu, saat masih di Denpasar, saya sempat memborong buku di jaringan toko buku Toga Mas yang baru didirikan disana. Promosi diskon 30% di bulan pertama pembukaan toko buku tersebut tentu sayang sekali untuk dilewatkan. Apalagi menemukan toko buku murah bukan perkara mudah di kota tempat saya tinggal sekarang. Alhasil, sore itu saya membeli beberapa judul buku yang sudah lama saya incar, salah satunya adalah "5 cm" karya Donny Dhirgantoro yang sebenarnya bukan judul baru di kancah kepustakaan Indonesia. Buku itu pertama kali dicetak saat saya masih kelas 2 SMA, sementara buku yang saya beli adalah cetakan kedelapanbelas--angka yang terbilang fantastis, menandakan "5 cm" ini laku keras. Menurut kawan-kawan saya, buku ini bagus dan sangat direkomendasikan untuk dibaca. Ditambah embel-embel "Buku Indonesia Sepanjang Masa versi Goodreads Indonesia" yang tertera di kovernya, saya jadi semakin yakin bahwa buku ini tak akan mengecewakan.
Hari, bulan, tahun berganti. Buku "5 cm" masih teronggok manis di lemari buku. Baru beberapa hari terakhir saya bertekad menghabiskannya, terdorong keinginan menantang diri saya sendiri untuk membaca lebih banyak buku di tahun ini. Buku ini berkisah tentang persahabatan 5 orang kawan karib yang memutuskan untuk tidak saling berkomunikasi selama 3 bulan. Lalu mereka bertemu kembali 3 hari sebelum peringatan hari kemerdekaan Indonesia untuk memulai petualangan mendaki Mahameru. Dalam novel ini penulis piawai menghadirkan aneka pemikiran filosofis para filsuf dan ilmuwan besar mulai dari Socrates, Plato, hingga Einstein yang kemudian menjadi cambuk semangat bagi para tokohnya. Bagi saya ini menarik karena dapat membuka wawasan tentang kisah-kisah sejarah yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Buku "5 cm" ini juga membuat saya merenung saat membaca kisah
balik tentang reformasi '98 yang dimotori mahasiswa (saya tahu betul
suasana pendudukan gedung MPR-DPR itu seperti apa--dulu saya sekeluarga
menyempatkan datang kesana sebelum Soeharto lengser). Jelas, buku ini mencoba mengingatkan kembali perjuangan bangsa ini yang mungkin nyaris terlupakan oleh sebagian besar generasi muda.
Sayangnya, baru tiba di seperempat bagian buku ini, saya sudah mulai dilanda kebosanan. Si penulis senang mendeskripsikan keadaan dengan amat berlebihan. Sering sekali saya menjumpai penulis mengimajinasikan butterfly effect dari sebuah situasi yang menurut saya sangat tidak perlu. Seperti di halaman 116 ketika tokoh Ian difoto-foto dengan ponsel, tiba-tiba muncullah efek domino fiktif hingga ujung-ujungnya (dalam dunia khayalannya) ia harus dibawa ke rumah sakit. Bagi saya, dramatisasi macam itu sama sekali tidak menarik. Garing. Secara teknis, bahasa yang digunakan juga seringkali cenderung tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta ramai kesalahan ketik (bagaimana bisa editor tidak jeli menemukan kekurangan-kekurangan tersebut hingga cetakan kedelapanbelas!) sehingga membuat saya ragu apakah karya ini bisa disebut sebuah produk sastra Indonesia yang berkualitas. Jujur, melihat ketidakcermatan editorial yang lumayan mengganggu, ekspektasi saya yang sudah kelewat tinggi pun jatuh.
Akan tetapi, secara keseluruhan novel "5 cm" ini cukup sukses menghadirkan pesan tentang nasionalisme dan motivasi untuk berani bermimpi--sebuah kombinasi sikap mental yang menurut saya sangat dibutuhkan oleh generasi penerus negeri ini.
Sayangnya, baru tiba di seperempat bagian buku ini, saya sudah mulai dilanda kebosanan. Si penulis senang mendeskripsikan keadaan dengan amat berlebihan. Sering sekali saya menjumpai penulis mengimajinasikan butterfly effect dari sebuah situasi yang menurut saya sangat tidak perlu. Seperti di halaman 116 ketika tokoh Ian difoto-foto dengan ponsel, tiba-tiba muncullah efek domino fiktif hingga ujung-ujungnya (dalam dunia khayalannya) ia harus dibawa ke rumah sakit. Bagi saya, dramatisasi macam itu sama sekali tidak menarik. Garing. Secara teknis, bahasa yang digunakan juga seringkali cenderung tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta ramai kesalahan ketik (bagaimana bisa editor tidak jeli menemukan kekurangan-kekurangan tersebut hingga cetakan kedelapanbelas!) sehingga membuat saya ragu apakah karya ini bisa disebut sebuah produk sastra Indonesia yang berkualitas. Jujur, melihat ketidakcermatan editorial yang lumayan mengganggu, ekspektasi saya yang sudah kelewat tinggi pun jatuh.
Akan tetapi, secara keseluruhan novel "5 cm" ini cukup sukses menghadirkan pesan tentang nasionalisme dan motivasi untuk berani bermimpi--sebuah kombinasi sikap mental yang menurut saya sangat dibutuhkan oleh generasi penerus negeri ini.
Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.
Buku-buku dengan genre semacam ini tampaknya memang sedang digemari oleh kalangan pembaca novel Indonesia. Beberapa buku populer lainnya
seperti tetralogi "Laskar Pelangi" (Andrea Hirata), dan trilogi "Negeri 5
Menara" (Ahmad Fuadi) juga menyuarakan semangat yang serupa.
Sambil membaca "5 Cm", telinga saya tak henti menangkap alunan nada dari TV yang menyala di ruang tengah sepanjang siang, menayangkan channel favorit Nat Geo Adventure yang kontinyu memutar advertorial dari footage berjudul "Departure". Lagu bertempo lambat yang melatarbelakangi iklan tersebut lama kelamaan jadi terdengar pas dengan kisah geng "Power Rangers" yang tengah saya baca di novel "5 cm" tersebut. Tidak hanya itu, melodinya juga menyenangkan untuk didengarkan. Tak pelak, saya pun dibuat penasaran. Siapa ya penyanyinya? Iseng saya mengetikan kata kunci di laman pencari, dan voilà... saya temukanlah lagu itu: "Secrets", dinyanyikan oleh Alexa Woodward.
Today we walked
in melting snow
hid inside,
making fire and tea
I met you when I was wandering
it's been many worlds since then
though my secrets are wild and deep
and my mind races while I sleep
I will plant my hunger here
in you



0 comment(s):
Post a Comment