Tahun 2011 ini sangat berarti bagi catatan sejarah hidup saya karena pada tahun inilah saya mengenal skoliosis secara lebih dekat, dan kejutannya... ia melekat dalam diri saya sendiri.
Pada Selasa, 27 Desember 2011 yang lalu saya kembali bertandang ke RSCM Kencana. Kali ini untuk mengambil hasil rontgen skoliosis program yang sudah selesai, sekaligus ingin segera meredakan rasa penasaran, berapa sih sebenarnya derajat skoliosis saya? Saya pun langsung mendaftar untuk konsultasi dengan dokter spine yang hari itu praktek. Saya mendapat giliran nomer tujuh dengan dr. Ifran Soleh, Sp.OT. Sebenarnya saya ingin berkonsultasi dengan dr. Rahyussalim yang banyak direkomendasikan di dunia maya, sayangnya beliau tidak ada jadwal praktek di RSCM pada hari Selasa. Melalui googling singkat, saya akhirnya mendapat kesimpulan bahwa dr. Ifran Saleh pun cukup berpengalaman menangani kasus-kasus skoliosis.
Menurut dr. Ifran, skoliosis yang saya derita tergolong ringan, dengan kurva di bagian thorakal sebesar 23 derajat, dan 21 derajat di bagian lumbal. Kondisi tulang saya yang sudah mature, diyakini dr. Ifran tidak akan mengalami progresivitas pelengkungan yang signifikan lagi. Sungguh, saya lega mendengarnya karena saya tak dapat membayangkan jika saya harus menggunakan brace. Meski demikian, distribusi beban di tulang saya tidak seimbang, menurut dr. Ifran itu akan membuat titik-titik pusat beban mudah mengalami osifikasi dibanding bagian tulang yang lain. Beliau meramalkan bahwa di hari tua saya akan mudah sakit punggung dengan kondisi tulang semacam itu :(. Dr. Ifran tidak meresepkan apa-apa untuk saya, beliau hanya mengingatkan saya untuk rajin berenang dan melakukan stretching. Menjelang akhir konsultasi, beliau mengajarkan saya cara-cara peregangan yang berguna untuk menjaga kelenturan. Bukan gerakan yang sulit sebenarnya, tapi menuntut kedisiplinan untuk rutin melakukannya.
Sehari sebelumnya, sebuah paket buku dari Purwokerto datang. Buku tersebut bercerita tentang perjuangan skolioser menghadapi kelaianan tulang belakangnya. Buku yang berjudul "Berdamai dengan Skoliosis" tersebut dikompilasi oleh Septi Harum dan Paramita, keduanya adalah skolioser tangguh yang sudah menjalani operasi pelurusan skoliosis. Buku tersebut sangat menyentuh, menguatkan dan menginspirasi. Buku yang membukakan mata saya tentang skoliosis dari berbagai kacamata penderita, yang membuat saya benar-benar sadar bahwa saya tidak sendirian, yang mendorong saya berpikir positif tentang skoliosis dan menuntun saya untuk mencari informasi yang tepat tentangnya. Dari buku tersebut saya belajar bahwa dukungan dari orang sekeliling adalah hal yang sangat penting bagi penderita skoliosis. Dan saya bersyukur memiliki seseorang yang luar biasa yang tak mengubah cara pandang dan kasihnya meski predikat skolioser kini tak terpisahkan dari diri saya.



3 comment(s):
semangat mbak sekar...=)
tak perlu resah, justru tanpa menyadari pun sebelumnya
bukankah banyak yang sudah dicapai...
ini hanya sebagian hikmah untuk lebih bersyukur dan bersemangat... =)
share dong, biaya konsul, rotgent & MRI di RSCM berapa... :)
Maaf ya, saya ngga ngerti biaya MRI. Belum pernah soalnya. Bisa langsung ditanyakan ke RSCM.
Post a Comment