Saya Sekar, seorang scolioser.
Hari ini saya berkunjung lagi ke RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo. Paviliun Kemuning yang sebelumnya saya datangi untuk pemeriksaan rontgen thorakal ternyata tidak bisa melakukan pemeriksaan skoliosis program. Untuk skoliosis program, saya harus datang ke bagian radiologi RSCM Kencana.
Gedung RSCM Kencana terletak disamping gedung RSCM Pusat. Keduanya terkoneksi dengan lorong panjang yang dapat dilalui dari arah Laboratorium 24 Jam. Kesan pertama saya pada RSCM Kencana adalah mewah dan berkelas. Saya disambut dengan alunan musik jazz dan petugas keamanan yang ramah. Tidak ada lautan manusia yang lalu lalang atau meluber di pinggir-pinggir jalur sirkulasi seperti di gedung sebelah. Rapi. Tertib. Bersih. Ruang tunggunya cantik, dilengkapi sofa-sofa empuk. Antrinya tidak berdiri mengular, cukup mengambil nomor antrian dari mesin dan menanti panggilan dan layar LED menampilkan nomor yang kita pegang. Restoran, kedai kopi, vending machines, dan mesin-mesin ATM mudah diakses dari dalam gedung.
Saya mendaftarkan diri di tempat registrasi yang suasananya mirip area costumer service di bank. Tak menunggu waktu lama, kartu pasien berbentuk seperti kartu ATM pun jadi. Profesional dan efisien. Saya tak membayar satu sen pun untuk pelayanan tersebut! Kemudian, saya menyerahkan kartu dan rujukan dari dr. Panca di bagian radiologi. Saya diminta untuk menunggu beberapa saat, berhubung ruangan periksa masih digunakan. Tak masalah bagi saya untuk menunggu disana. Tak lama, petugas menghampiri saya di area tunggu, ia mengembalikan kartu anggota saya dengan ramah dan memberitahukan bahwa nanti saya akan dipanggil. Sekali lagi, saya terpukau. :D
Ruang radiologi RSCM Kencana sangat berbeda dengan Paviliun Kemuning. Ruang ganti baju dibedakan menurut gender, dan ruang pemeriksaannya sangat canggih dan modern. Sayangnya, saya tak bisa memilih jenis kelamin radiografer yang memeriksa saya, dan saya pun diperiksa oleh laki-laki. Saya dipindai dengan melakukan berbagai pose, dari berdiri tegak, melengkung sampai berbaring. Gerakan melengkung ke kanan dan ke kiri adalah yang paling menyiksa bagi saya, karena saya harus melengkungkan tubuh saya secara maksimal hingga terasa sakit. Pinggang saya ngilu sekali dibuatnya.
Wajar saja jika biaya yang dikeluarkan untuk rontgen skoliosis program tidak sedikit. Menurut si radiografer, nanti saya akan mendapat banyak gambar. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan skoliosis program saya perlu merogoh kocek sebesar Rp 671.399,-.
Selesai dirontgen, saya diberi tahu bahwa pihak RSCM akan menghubungi saya via telepon jika gambar sudah jadi. Saya hanya perlu menunjukan kuitansi untuk mengambilnya. Saya yang pada saat itu belum memegang kuitansi, bertanya-tanya adakah invoince untuk melakukan pembayaran? Ternyata saya hanya perlu menunjukan kartu anggota dikasir dan nanti tagihan sudah otomatis muncul. Tidak repot!
Majelis Penguji Kesehatan belum dapat menyerahkan surat kelayakan kesehatan sebelum saya menuntaskan serentetan pemeriksaan tulang punggung ini. Minggu depan saya harus bertemu dengan dokter orthopaedi lagi. Sejatinya, saya lebih peduli terhadap masa depan kesehatan saya ketimbang sekadar surat pernyataan sehat. Saya justru bersyukur karena saya tahu bahwa saya menderita skoliosis melalui rontgen thorakal saat medical check-up, bukan karena sakit atau perubahan bentuk tubuh.
Lagi-lagi saya seperti diingatkan oleh-Nya bahwa selalu ada hal yang bisa disyukuri dari setiap momen yang kita dapati. Cheers! :)
Picture via gettyimages.co.uk



0 comment(s):
Post a Comment