Around Kintamani

05/11/2011

Kintamani adalah destinasi wisata yang memikat. Keindahan alam dan budayanya menjadi suguhan istimewa bagi pelancong yang datang ke dataran tinggi ini. Dari Pura Besakih, rombongan kami beranjak menuju Kintamani, melewati jalan aspal yang berkelok dinaungi teduh pepohonan di kedua sisi. Tak lama, Kaldera Batur menampakkan diri, terkepung gunung api perkasa yang menciptakan wujudnya beribu tahun yang lalu.

Saya menikmati pemandangan dari titik pandang terbaik, duduk di kursi batu yang panas terpanggang sinar matahari, dicandai oleh semilir hawa pegunungan, terpikat pada lanskap yang membentang di hadapan. Indonesia mempunyai ratusan gunung dan danau, namun Batur memiliki daya tariknya sendiri. Seakan-akan ada aura magis yang membumbung, membuat ingin mendekat.


Dan benar saja, kami memutuskan untuk melihat lebih lekat, mencapai bibir danau dan mengunjungi Pura Ulun Danu Batur yang menjadi salah satu dari 9 pura kunci di Bali. Untuk menuju kesana harus melalui dataran berbukit-bukit yang tanahnya legam seperti habis terbakar. Pemandangan yang begitu asing namun sekaligus juga indah. Air di kawasan tersebut hangat, sebuah padanan yang sesuai untuk daerah berhawa sejuk seperti Kintamani.

Dari sebuah poster yang dipasang di dekat Pura Ulun Danu Batur, saya menyadari bahwa Kawasan Batur Kintamani yang merupakan warisan budaya Bali ini rupanya tengah berupaya untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia. Sebuah langkah strategis yang tentunya patut didukung penuh. Namun, saya jadi teringat pada mata kuliah Arsitektur Pelestarian yang dulu pernah saya dapatkan, bahwa penetapan status kawasan konservasi akan membawa konsekuensi-konsekuensi dilematis, seperti misalnya munculnya pembatasan penggunaan sebuah situs pura sebagai tempat sembahyang. Penahbisan gelar warisan budaya dunia untuk situs-situs yang masih aktif digunakan sehari-hari akan menjadi persoalan pelik bagi masyarakat setempat.


Dari kawasan sumber mata air panas, kami bisa melihat sebuah klaster permukiman nun jauh di seberang danau. Trunyan namanya. Sebuah desa tradisional yang terkenal akan keunikan budayanya. Menjelang senja, kami memutuskan mengunjungi desa tersebut. Perjalanan kesana tidak mudah karena medan yang ditempuh cukup menantang. Seorang warga lokal menjadi pemandu kami untuk mencapai kampung itu.

Bisa dibilang, Trunyan adalah permukiman yang terisolasi, dikitari oleh bukit-bukit terjal dan danau Batur yang indah. Meski demikian, infrastruktur dasar sudah cukup modern, pasokan listrik PLN pun sudah masuk ke kampung ini. Akan tetapi, sulit untuk disangkal bahwa Trunyan menyimpan atmosfer mistis yang begitu kuat. Dan itulah alasan kedatangan kami kesini.

Perahu-perahu kayu bersandar tenang di darmaga sederhana. Beberapa perahu adalah bantuan dari PNPM, dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai pendukung pariwisata kawasan. Kami menumpang dua perahu yang didayung oleh warga lokal menuju sebuah tempat di balik bukit: Trunyan Outdoor Funeral. Sebuah point of interest yang memancing rasa penasaran kami semua.

Perahu merapat di darmaga alami. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Kami melangkahkan kaki menyusuri setapak kecil yang berujung di depan gerbang kecil berundak-undak, berhias tengkorak serta boneka berwujud sosok pria dan wanita. Tepat di hadapan kami pohon Trunyan raksasa yang melegenda itu berdiri kokoh.


Rasa takut nyaris tak hinggap dalam diri saya. Mungkin karena saya berada diantara rombongan grup yang berjumlah lusinan orang. Yang ada hanya rasa takjub, menjumpai jenazah-jenazah yang tak mengeluarkan bau tergeletak damai dan tenang, tersembunyi dalam sangkar-sangkar bambu. Saya sempatkan berfoto barang dua, tiga kali dilatarbelakangi belulang yang terserak, maupun tengkorak yang sudah dideretkan rapi di undakan. Ini pengalaman yang luar biasa! Kami keluar dari naungan Pohon Trunyan itu kala sinar matahari sudah mulai redup. Sebelum melompat ke dalam perahu yang akan membawa kami kembali ke desa, saya catat baik-baik pesan yang tertera pada prasasti di muka dermaga.
Om Swastiastu
This place remind us, all of us, will die. Because of that:
  • Don't be proud
  • Don't be spite
  • Don't be greedy
It's important to be seen by the human being who realize that they will die.

Perahu tiba di dermaga desa tepat saat matahari tenggelam. Langit berpulas jingga, kuning dan biru. Hati saya menari, terbius dalam pesonanya. Betapa cantiknya tempat ini! Anak-anak perempuan bergerombol di dekat cagak kayu dekat dermaga, bermain tepuk-tepukan seperti yang pernah saya lakukan ketika masih kecil. Babi hutan di balik tembok mendengus. Ibu-ibu bercakap-cakap di teras rumah. Dan Pak Ketut Dona, warga lokal yang menyewakan perahunya untuk kami, mengulurkan secarik kertas untuk diisi pesan dan kesan. Seorang kawan mengisinya atas nama saya. "Amazing", tulisnya.

2 comment(s):

{ Sholawati } on: Sunday, 27 November 2011 5:35:00 PM GMT+07:00 said...

izzz.... foto-fotonyaaa...
keren Mba :-bd

{ Dewi P } on: Sunday, 27 November 2011 5:36:00 PM GMT+07:00 said...

jadi pengen kesana..
setiap perjalanan selalu ada nilai yang akan kita ambil...
saya suka petikan kalimat, "Om Swastiastu dst..." dan kandungan makna di dalamnya :)
tetap berpetualang sekar...saya tunggu cerita-ceritanya

Post a Comment

Loading...