Test Pack

09/10/2011
Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin. Will you still love them, then? That's why you need commitment. Don't love someone because of what/how/who they are. From now on, start loving someone, because you want to.
- Test Pack, hal. 196

Saya belakangan jarang sekali membaca novel romantis. Tapi entah kenapa kemarin di toko buku mata saya tak bisa berhenti untuk melirik buku bersampul sepasang gelas wine itu. "Test Pack" oleh Ninit Yunita. Saya ingin sekali membacanya. Bisa jadi saya terprovokasi statement yang tertera di sampulnya: "Jangan kawin dulu sebelum baca buku ini." Terlebih lagi, di lini masa saya sering mendapati berbagai pujian mengalir untuk buku ini. Akhirnya saya putuskan untuk membelinya.

Dan ternyata buku ini memang luar biasa. Ringan namun padat pesan moral. Diceritakan dalam buku ini, Tata seorang pengacara telah menikah selama tujuh tahun dengan Rahmat seorang psikolog, namun keduanya belum dikaruniai keturunan. Tata yang terobsesi memiliki bayi begitu ketakutan jika ia infertil. Ia khawatir Rahmat akan mencampakannya. Padahal sebetulnya, Rahmat sama sekali tidak pernah terpikir untuk meninggalkan Tata kalau pun kenyataannya ia tak bisa memberikannya keturunan.
Tata telah memberikan tujuh tahun terindah dalam hidup gue. She was there when I cried. She is always there for me. Kita saling berbagi kebahagiaan, kesedihan, tawa dan luka. Tata adalah dunia gue. So, no. I will not leave her even though maybe she is infertile. I chose to be with here. I was the one who kissed her forehead after ijab kabul. I have made my commitment.
-Rahmat's thought, hal. 62
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Tata dinyatakan fertil, sayangnya Rahmat dinyatakan sebaliknya oleh dokter. Hati Tata hancur, ia pun memilih kembali ke rumah orang tuanya. Berbagai permasalahan pun bergulir kemudian, hingga Tata berpikir untuk meninggalkan Rahmat untuk selamanya. But, he is her destination. Pada akhirnya Tata menyadari kekeliruannya dan ia pun kembali kepada suaminya.
I love him more and more karena ketabahan dia dalam menjalani hidup. I know he wants children too. I know it's tough for him. It's tough for me too. But facing it together with the one I love, I know it won't be really that tough.
-Tata's thought, hal. 196
Haru saya dibuatnya. Saya tertawa, mengangis, dan merenung saat membaca buku ini. On the whole, buku ini mendorong saya untuk ikut menanyai diri saya sendiri, mengingatkan kembali how far a commitment will take you? 

P.S:
To me, commitment is how to love someone unconditionally. Commitment gives me strength to stick to my believe that he is the one that I want to live and grow old with. He is my world and being with him for good is my biggest dream. Because of commitment, we had always fought for the sustainability of ours every time we got the lowest point and eventually we could cope with it. And because of commitment, it has never crossed in my mind to cheat on him, to hurt him... 

1 comment(s):

{ Dewi Puspitasari } on: Friday, 28 October 2011 7:10:00 AM GMT+07:00 said...

Salam kenal...

Saya Dewi...Nampaknya saya akan menjadi salah satu penggemar dan pembaca tulisan-tulisan Anda..mba Sekar

Post a Comment

Loading...