Mother Temple of Besakih

29/10/2011

Sabtu pekan lalu, saya melakukan perjalanan bersama teman-teman peserta EAP. Kami berdua puluh empat berkonvoi dengan tiga mobil sewaan, berangkat pukul delapan pagi. Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Pura Besakih di Karangasem, Bali. Pengetahuan saya tentang tempat-tempat wisata di Bali sebagian besar saya dapatkan dari kartupos-kartupos yang saya kirim untuk sahabat Postcrosser di mancanegara. Dan ekspektasi saya terhadap Pura Besakih agaknya terlalu berlebihan, membuat saya agak kecewa saat menjumpai pura tertua di Pulau Bali ini tidak semenawan yang tercetak di kartupos seribuan yang dijual di depan Kantor Filateli Jakarta. Bagaimanapun juga, Besakih adalah ibu dari segala pura, ia juga dinominasikan sebagai salah satu World Heritage Site. Tidak lengkap pengembaraan menziarahi pura-pura di Bali tanpa menengok pura yang dibangun di lereng Gunung Agung ini. 

Saat tiba di Besakih, langit mulai berselimut mendung. Jarak antara tempat parkir kendaraan wisatawan dan pintu gerbang pura ternyata cukup jauh dan konturnya menanjak. Saya cukup menyesal tidak sempat melongok Wikitravel, Lonely Planet, atau Trip Advisor terlebih dahulu sebelum berangkat. Pertama, tidak ada satupun dari kami yang menyangka bahwa pengunjung Pura Besakih harus mengenakan bawahan panjang di bawah lutut. Ketidaktahuan ini memaksa dua orang kawan yang memakai celana pendek harus menyewa kain Bali agar diperkenankan memasuki area pura. 

Kedua, kami juga mendapati berbagai pemaksaan untuk membeli sesuatu yang tidak kami butuhkan. Hal tidak menyenangkan ini dimulai saat kami tiba di pintu masuk pura. Di sana puluhan perempuan Bali berebut menyambut kedatangan kami, mereka mengulurkan bunga untuk kami selipkan di daun telinga. Ternyata bunga tersebut tidak diberikan secara cuma-cuma, belakangan kami baru menyadari bahwa kami harus membayar sejumlah rupiah sebagai ganti dari bunga yang telah kami pakai. Pemaksaan tidak berhenti sampai disitu. Penjaja kartupos lebih sadis lagi, berpegang teguh dengan slogan "jika kamu menawar maka kamu harus membayar", beberapa teman saya dengan sangat terpaksa akhirnya merogoh kocek untuk beberapa kartupos Bali yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

Ketiga, ketika kami hendak mengawali kegiatan berkeliling pura, rintik-rintik hujan mulai jatuh. Menariknya, rinai turun satu persatu, dalam frekuensi yang lebih sedikit, kadang muncul dan kadang pergi. Gerimis ini awalnya bisa kami antisipasi,  namun lama-lama ia tidak main-main lagi. Frekuensi dan densitasnya menjadi semakin rapat. Alhasil, saya harus menyewa satu payung berukuran besar seharga sepuluh ribu rupiah untuk digunakan berjalan-jalan sampai kembali ke tempat parkir. Ini membuat saya menyesal, kenapa payung pink bergambar Hello Kity saya tinggalkan di Denpasar.

Meskipun dihadapkan dengan berbagai hal yang tak terprediksi sebelumnya, tapi perjalanan ke Pura Besakih ini cukup mengesankan.  Kami kembali ke tempat parkir menjelang tengah hari. Di sana kami sempat mencicipi beberapa butir buah durian dan salak Bali. Perjalanan pun dilanjutkan, kami berangkat menuju destinasi berikutnya: Kintamani...

0 comment(s):

Post a Comment

Loading...